8 Mei Hari Thalassaemia Sedunia, Tidak Lagi Tersembunyi: Menemukan yang Belum Terdiagnosis. Mendukung yang Tak Terlihat

Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif berikan bantuan sosial/hibah kepada penyandang thalasemia mayor berupa lauk pauk dan transportasi melalui Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI). Minggu 25 Mei 2025
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif berikan bantuan sosial/hibah kepada penyandang thalasemia mayor berupa lauk pauk dan transportasi melalui Perhimpunan Orangtua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI). Minggu 25 Mei 2025

TABLOIDELEMEN.com – Dunia memperingati Hari Thalassaemia Sedunia setiap tanggal 8 Mei guna meningkatkan kepedulian terhadap penyakit kelainan darah yang mengancam jiwa ini.

Melalui kampanye tahunan, berbagai pihak berupaya mengedukasi masyarakat mengenai penyebab, gejala, serta pilihan pengobatan efektif.

Momentum tahun 2026 mengangkat tema khusus: “Tidak Lagi Tersembunyi: Menemukan yang Belum Terdiagnosis. Mendukung yang Tak Terlihat.”

Fokus utama peringatan kali ini adalah memastikan akses pengobatan bagi setiap individu tanpa terkecuali.

Selama ini, banyak pasien terabaikan atau gagal memperoleh penanganan tepat waktu karena keterbatasan pasokan medis.

Bacaan Lainnya
Milo

Oleh karena itu, gerakan ini mendorong ketersediaan layanan kesehatan yang merata agar seluruh penderita mampu menjalani hidup dengan lebih layak.

Talasemia sendiri merupakan penyakit keturunan akibat kegagalan tubuh dalam menghasilkan hemoglobin sehat secara cukup.

Kekurangan protein dalam sel darah merah tersebut memicu anemia seumur hidup, kelelahan kronis, serta gangguan pertumbuhan pada anak.

Tanpa pengelolaan yang baik melalui transfusi darah rutin serta terapi kelasi besi, kondisi ini dapat membahayakan keselamatan jiwa.

Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis utama, yakni alfa dan beta talasemia, bergantung pada rantai protein yang mengalami gangguan.

Faktor genetika dari orang tua menjadi penyebab utama kemunculan mutasi gen pada anak.

Skrining sebelum menikah serta konseling genetik menjadi tindakan preventif yang sangat krusial guna memutus rantai penyebaran penyakit ini pada generasi mendatang.

Gejala umum penderita meliputi kulit pucat, sesak napas saat beraktivitas, hingga perubahan struktur tulang pada kondisi parah.

Saat ini, transplantasi sel punca menjadi satu-satunya metode penyembuhan total yang tersedia dalam dunia medis.

Kerja sama seluruh lapisan masyarakat dalam menyebarkan informasi sangat penting guna menciptakan komunitas yang sehat serta bebas dari beban penyakit kronis.

 

 

 

 

Pos terkait

Milo